Materi Quis dan Hadiah
Apa tujuan Allah menciptakan manusia?
Jawabannya :
Tujuan-Nya agar manusia diberi kesempatan untuk bisa merasakan hidup bahagia di dunia dan di akhirat.
Apa dasarnya kesimpulan seperti itu?
Dari informasi yang ada di Alquran.
Alquran di dalamnya terdapat kisah-kisah yang banyak memberikan kita pelajaran. Cara yang mudah merasakan manfaat Alquran adalah dengan mempelajari kisah-kisah tersebut dengan sangat serius sehingga kita bisa memahami pesan-pesan dari Allah yang hendak disampaikan kepada kita sebagai manusia.
Kita awali dengan kisah tentang Nabi Adam dan iblis karena di dalamnya menginformasikan tentang tujuan Tuhan menciptakan manusia.
Nabi Adam adalah manusia cerdas pertama. Ketika Allah menciptakan Adam, Allah langsung memberikannya tempat tinggal di surga. Ini petunjuk pertama bahwa Allah itu menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia itu bisa hidup bahagia. jika Allah tidak memberi kesempatan untuk hidup bahagia kepada manusia maka sejak manusia pertama yaitu Adam mungkin akan diberi tempat tinggal yang sangat buruk dan tidak menyenangkan, misalnya di padang pasir yang sangat gersang dan panas yang sangat sulit hidupnya sehingga untuk mendapatkan satu gelas air pun harus kerja keras dan berjuang mati-matian. Dari informasi di Alquran ternyata tidak seperti itu, sejak pertama kali diciptakan nenek moyang manusia cerdas itu (Nabi Adam) disuruh tinggal di surga.
Selanjutnya allah memberikan perintah pertama kepada Adam, apakah itu?
Ternyata perintah pertamaNya adalah menyuruh nabi Adam untuk makan dan minum sepuasnya. Semuanya yang ada di surga boleh dimakan, boleh diminum, cuma hanya ada satu pohon yang dilarang untuk didekati apalagi sampai memakan buahnya. Informasi ini adalah petunjuk kedua yang memberitahu kepada kita bahwa manusia itu sejak awal diciptakan Allah dengan tujuan agar manusia itu punya kesempatan untuk hidup bahagia. Jika Allah tidak memberi kesempatan untuk hidup bahagia maka mungkin Adam hanya boleh makan dan minum secara terbatas.
Uraian kalimat-kalimat diatas, terinspirasi dari ayat Quran dibawah ini :
“Dan Kami berfirman, "Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan/buah-buahan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!" (Al-Baqarah ayat 35)
"Wahai Adam! Tinggallah engkau bersama istrimu dalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (Al-A’raf ayat 19)
Petunjuk berikutnya adalah ketika Nabi Adam beserta keluarganya dan keturunannya diusir dari surga atau diperintahkan turun ke bumi untuk menjadi khalifah.
Allah berkata : ia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. (surat Al-A’raf ayat 24) Artinya di sini Allah menyuruh manusia untuk hidup di dunia itu agar bisa merasakan bahagia. Manusia bisa memperoleh bahagia karena diberi tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai manusia tersebut meninggal dunia. Tidak ada pernyataan memerintahkan manusia (Adam dan keluarga) untuk turun ke bumi agar menjadi sengsara.
Petunjuk berikutnya adalah Allah sudah menyiapkan Hari pembalasan. Pada Hari pembalasan kita semua dimintai pertanggungjawaban, amal perbuatan kita ditimbang mana yang lebih berat antara perbuatan baik dan perbuatan buruk. Ternyata Allah sudah menyiapkan bagi yang perbuatan baiknya lebih banyak daripada perbuatan buruknya maka dia akan diberi hak untuk tinggal di surga dengan jangka waktu yang sangat-sangat lama sekali dibandingkan hidup di dunia sehingga layak untuk disebut akhirat itu kekal dan abadi.
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Al-Zalzalah ayat 7-8)
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran ayat 185)
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah ayat 82)
Adanya informasi – informasi di atas yang berasal dari Alquran ini membuktikan bahwa tujuan Allah itu menciptakan manusia adalah memang agar manusia itu punya kesempatan untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat.
Lantas dari mana anggapan bahwa kita ini harus memilih salah satu, yaitu bahagia di dunia atau bahagia di akhirat? Seolah – olah manusia kalau memilih bahagia di dunia berarti mengorbankan bahagia di akhirat. Sebaliknya kalau memilih bahagia di akhirat berarti mengorbankan kebahagiaan di dunia. Alquran hanya mengingatkan manusia jangan sampai memilih kesenangan di dunia padahal kesenangan tersebut sifatnya tipuan dan sementara sehingga mengorbankan kebahagiaan di akhirat.
“Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Ghafir ayat 39)
“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (Fatir ayat 5)
Disini Alquran memberikan petunjuk agar manusia jangan tertipu oleh kesenangan duniawi yang di dorong oleh godaan setan yang terkutuk. Jadi sama sekali bukan melarang manusia untuk hidup bahagia di dunia. Contohnya sebagai berikut: banyak orang yang berfikir bahwa mabuk-mabukan, berzinah, mendapatkan uang (haram) yang banyak dengan cara cepat dan mudah adalah hal yang menyenangkan. Inilah contoh kesenangan-kesenangan yang dilarang di dalam Alquran dan termasuk kesenangan dunia yang memperdaya manusia dan menyebabkan manusia tersebut kehilangan peluang untuk bahagia di akhirat.
Intinya tidak ada satu ayat pun di Alquran yang mendukung pernyataan bahwa manusia itu harus memilih salah satu di antara ingin bahagia di dunia atau ingin bahagia di akhirat. Konyol sekali bila kita mempercayai pernyataan tersebut. Bukankah setiap saat kita menyebut Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka tidak masuk akal bila Allah hanya memberi kesempatan pada kita untuk bahagia hanya di dunia atau di akhirat saja.
Bila kita mentadaburi Alquran dengan serius dan teliti, akan terlihat informasi yang terang benderang bahwa Allah itu itu memberikan kesempatan pada manusia untuk bisa bahagia di dunia dan akhirat. Dalam surat Ibrahim ayat 7 menyiratkan bahwa surga itu ditujukan pada manusia yang selalu bersyukur kepada Tuhannya dan neraka itu ditujukan pada manusia yang selalu mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya (atau manusia yang tidak mampu bersyukur).
Allah berkata: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Bukankah puncak dari segala kenikmatan yang Allah berikan itu adalah surga? dan puncak dari segala azab pedih yang diberikan Allah itu adalah neraka? Jadi rasanya tidak salah bila kita simpulkan bahwa adanya rasa syukur di hati dan pikiran kita adalah kunci untuk menuju surga.
Sangat penting untuk menyadari bahwa rasa bersyukur yang hakiki hanya terdapat pada orang-orang yang sudah merasakan bahagia. Jika ada orang yang belum bahagia tapi mengatakan saya sudah bersyukur maka bisa jadi itu hanya bisa diucapkan oleh mulut dan otak yg dipaksakan tetapi sebetulnya hati dan pikirannya masih belum bisa bersyukur.
Dengan demikian harus hati-hati, karena kalau kita belum mampu merasakan bahagia di dunia maka bisa jadi kemungkinan nya kita itu adalah calon penghuni neraka. Naudzubillah min dzalik
Bersyukur atau bahagia di sini tidak identik harus sudah kaya, harus sudah sukses, harus sehat wal afiat 100%. Bahagia di sini adalah kita sudah menyadari di otak pikiran dan hati kita telah menyetujui dan merasakan bahwa memang Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta Maha Adil. Ini bukan cuma mulut kita saja yang rajin membaca basmalah tetapi kita sudah di level menyadari Allah itu benar-benar Maha Baik, Adil, Pengasih Dan Penyayang. jika sudah di level ini insya Allah kita itu adalah calon penghuni surga karena sudah termasuk manusia yang selalu bersyukur kepada Tuhannya.
Pembahasan tentang apa tujuan Allah menciptakan manusia, seringkali jawabannya adalah dengan mengutip surat Az-Zariyat ayat 56: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Ini sering kali diartikan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia hanyalah sekedar agar manusia itu beribadah terus menerus kepada Allah.
Menurut penulis, tidak salah jika menyimpulkan seperti itu, tetapi kita bisa lihat juga di ayat-ayat lainnya yang menyatakan bahwa :
kemandirian Allah yang tidak tergantung kepada hambanya termasuk manusia.
"Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan semua orang yang ada di bumi mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.'" (Ibrahim ayat 8)
"Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi-Ku makan." (Az-Zariyat ayat 57)
kebaikan yang dilakukan oleh manusia hanya akan kembali pada kebaikan pada diri manusia tersebut. "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri..." (Al-Isra ayat 7)
Adanya hadist yang menyatakan bahwa "Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama di antara kamu, orang yang terakhir di antara kamu, manusia dan jin di antara kamu, semuanya memiliki hati yang paling bertakwa, maka yang demikian itu tidak menambah sedikit pun Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama di antara kamu, orang yang terakhir di antara kamu, manusia dan jin di antara kamu, semuanya memiliki hati yang paling durhaka, maka yang demikian itu tidak mengurangi sedikit pun kerajaan-Ku." (Hadis Qudsi HR Abu Dzar al Ghifari). Ini di tafsirkan bahwa jika seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir berhati durhaka/ingkar kepada Allah, maka tidak mengurangi kemuliaan atau kekuasaan Allah sedikit pun.
Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa lebih tepat mengatakan : Allah itu memang menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia itu memperoleh kesempatan untuk bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat. Sedangkan surat Az-Zariyat ayat 56 adalah Allah menerangkan kepada manusia bagaimana caranya. Caranya adalah adalah dengan selalu berfikir apa pun aktivitas yang kita lakukan adalah semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah atau beribadah kepada Allah. Itulah cara Allah memberitahu kepada manusia bagaimana caranya hidup bahagia di dunia dan meraih bahagia kelak di akhirat.
Untuk menjalankannya bukan hal mudah. Ini membutuhkan ilmu, pengetahuan dan kemauan tekad yang kuat.
Alquran menjelaskan bahwa tekad yang kuat adalah hal yang sangat penting. Bahkan secara tegas Alquran menyatakan bahwa kegagalan Nabi Adam dalam menghadapi godaan iblis adalah karena saat itu beliau belum memiliki Tekad yang kuat. “Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.” (Taha ayat 115)
Sekali lagi, sangat jelas dan terang benderang Alquran menginformasikan bahwa tekad yang kuat adalah salah satu hal yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan. Dengan mentadaburi Alquran ini kita menjadi mengerti bahwa tanpa tekad yang kuat akan berakhir dengan kegagalan.
Demikian bagian pertama dari buku ini dengan kesimpulan bahwa tujuan utama Allah menciptakan manusia adalah memberi kesempatan kepada manusia itu untuk bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat. Caranya adalah dengan mengikuti petunjuk atau informasi yang ada di dalam Alquran. Salah satunya caranya adalah dengan selalu berpikir dan berniat bahwa apapun yang dia lakukan di dunia ini tujuannya adalah sebagai ibadah yang berharap mendapatkan keridhoan dari Allah.
Mengapa kita harus salat dan bagaimana caranya agar kita bisa melaksanakan ibadah salat dengan khusyuk ?
Di dalam Alquran ada banyak ayat yang menyatakan bahwa hakekatnya Allah lah yang memiliki apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Ini artinya tubuh kita pun bukan milik kita melainkan milik Allah. Dengan demikian kita itu hanyalah sang peminjam sedangkan Allah itu adalah sang pemilik.
Sebagai sang peminjam atau pihak yang meminjam barang tentu saja setiap saat jika sang pemilik ingin kita mengembalikan barang yang dipinjam oleh kita maka kita wajib segera untuk mengembalikannya.
Etika moralnya adalah seperti itu.
Terjawab sudah Mengapa kita harus salat, ini karena kita hanya meminjam tubuh ini dari Allah dan Allah sebagai sang pemilik tubuh menyuruh mengembalikan tubuh ini lewat ibadah salat wajib lima waktu.
Jika kita menolak melaksanakan ibadah salat lima waktu maka ini sama dengan orang yang meminjam barang namun menolak ketika sang pemilik barang itu menyuruh mengembalikan. Artinya ketika manusia tidak melaksanakan shalat, maka itu seperti manusia yang "bermental maling", alias pinjam barang tapi tidak mau mengembalikan.
Kalau kita bertanya Mengapa hidup kita saat ini begitu banyak kesulitan, banyak hal yang buruk menimpa kita, bisa jadi itu terjadi karena di mata Tuhan kita adalah manusia yang tidak tahu diri alias manusia yang bermental maling. Ini karena kita sudah meminjam tubuh ini dari Tuhan namun ketika tuhan menyuruh untuk mengembalikannya sementara lewat ibadah salat lalu kita menolaknya.
Pada akhirnya walaupun kita menolak untuk mengembalikannya sementara tubuh ini lewat ibadah salat tetapi pada akhirnya kita tetap akan mengembalikannya tubuh ini untuk selama-lamanya yaitu pada saat kematian.
Jadi, sebelum kita mau tidak mau mengembalikan tubuh ini untuk selama-lamanya lewat kematian maka jauh lebih mulia bila selama kita masih hidup kita mengembalikan sementara tubuh ini secara sukarela lewat ibadah salat.
Agar kita dapat melaksanakan ibadah salat dengan khusyuk maka awali dengan berpikir, berniat bahwa kita melaksanakan ibadah salat dengan motivasi kita semata-mata mengembalikan barang yang sudah kita pinjam dari Allah. Kita tidak usah berpikir tentang pahala yang besar, cukup saja kita hanya berpikir kita sudah pinjam barang yang harus dikembalikan sementara, lalu kemudian bisa kita pinjam lagi. Untuk urusan pahala, urusan surga biarlah itu menjadi hak mutlak Allah dalam menilai apa-apa yang telah kita kerjakan.
Bagaimana bila kita malas melaksanakan ibadah salat? Bukankah ini karena godaan dari setan? Apa yang harus kita lakukan?
Jawabannya adalah kita harus sangat jujur kepada Allah. Kita ngobrol saja dengan Allah berkata dalam hati dan bisa pula berdoa:
"Ya Allah, hamba sangat malas melaksanakan ibadah sholat ini. Tetapi hamba sadar tubuh ini adalah milik Mu, hamba hanya sekedar pinjam dan Engkau selaku pemilik tubuh ini mengharuskan hamba mengembalikan sementara tubuh ini lewat ibadah sholat. Hamba sadar dengan kewajiban ini tapi hamba merasa sangat malas. Untuk itu ya Allah, hamba akan memaksakan diri untuk tetap shalat walau dengan perasaan malas, hamba akan memaksakan diri untuk tetap sholat walau hamba laksanakan dengan cara cepat. Ke depannya ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk melawan rasa malas ini dan berilah kemampuan pada hamba untuk bisa merasakan kenikmatan saat beribadah kepada Mu"
Dengan melakukan hal di atas maka kita di tahap sedang berjuang untuk bisa salat dengan khusyuk, karena kita tidak berpikir sedang menabung pahala, melainkan sedang menghambakan diri pada Allah dan menyerahkan sepenuhnya kepada putusan Allah apakah mau memberikan pahala pada kita atau tidak. Kita hanya fokus bahwa kita itu adalah sang peminjam yang tidak memiliki apa-apa sedangkan Allah adalah sang pemilik yang memiliki segala-galanya. Kita hanya berserah diri dan berharap ibadah sholat kita menjadi penyelamat di dunia dan di akherat.
Pada akhirnya yang terpenting dalam hidup itu adalah kita melakukan ikhtiar yang maksimal, Adapun untuk hasilnya kita serahkan pada Allah SWT.
Teruslah berpikir positif pada Tuhan mu.
Ini kalimat yg ringan, mudah diucapkan tetapi cukup sulit untuk dilakukan, bahkan sangat sulit untuk dipraktekkan di kehidupan sehari-hari.
Mengapa? Sebagai orang yang beragama kita mengakui bahwa keberadaan setan itu adalah hal yang sangat nyata. Setan senantiasa menggoda manusia, mencegah manusia untuk bisa berpikir positif pada Tuhan.
Setan ingin agar manusia itu meniru kesalahan yang dia perbuat yaitu berpikir dan menyimpulkan bahwa Tuhan itu tidak adil.
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa setiap waktu berpikir positif pada Tuhan?
Rumusnya kurang lebih seperti ini:" kita bisa berpikir positif pada Tuhan jika kita banyak berpikir negatif pada takdir di luar yang sekarang sedang terjadi."
Contohnya seperti begini:
Hari ini kita hanya memiliki kendaraan yang butut. Kita harus berpikir bahwa ini adalah takdir yang terbaik.
Kita lalu menyimpulkan bahwa Jika kita hari ini sudah diberi kendaraan yang baru, yang mahal, yang mesinnya bisa super ngebut, maka ada tiga hal buruk yg terjadi.
Kesatu, bisa jadi kita akan mengalami kecelakaan yang fatal karena kita mengendarai dengan sangat ngebut.
Kedua, kita menjadi manusia yang berbangga diri atau sombong padahal kesombongan adalah hal yang sangat dimurkai oleh Allah.
Ketiga, bisa jadi akan mengalami pembegalan sehingga terluka parah atau bahkan tewas.
Ini adalah contoh bagaimana agar bisa berpikir positif pada Tuhan adalah dengan cara banyak berpikir negatif atau membayangkan hal-hal yang negatif seandainya takdir yg terjadi saat ini diganti dengan takdir lainnya.
Kesimpulannya: Kita harus selalu yakin bahwa takdir yang sekarang terjadi adalah takdir yang adil dan terbaik.
Ini akan menjadi kebalikannya yaitu kita tidak mampu menjadi manusia yang berpikir positif pada Tuhan jika kita banyak berpikir positif pada takdir di luar yang sekarang sedang terjadi.
Misalnya: kita hari ini ditakdirkan hanya memiliki kendaraan butut lalu kita berpikir: Andaikan saya hari ini sudah memiliki kendaraan yang baru yang baik maka hidup saya akan lebih indah dari saat ini. Saya bisa mengendarai dengan kecepatan yang lebih tinggi sehingga waktu sampainya bisa lebih cepat. Selain itu saya juga tidak akan merasa malu pada teman-teman, tetangga atau saudara Karena saya hanya mampu mempunyai kendaraan butut ini.
Selain contoh masalah kendaraan, kita juga bisa mencontohkan masalah rumah.
Misalnya saat ini kita dalam posisi belum memiliki rumah, baru mampu mengontrak rumah sempit.
Kemudian kita membandingkan dengan orang lain yang hidup di perumahan sangat mewah dan kita menganggap takdir kita saat ini adalah hal yang buruk. Kita berpikir adalah takdir yang sangat baik bila kita justru ditakdirkan hari ini untuk tinggal di perumahan yang sangat mewah tersebut.
Saat kita memiliki pemikiran seperti itu, sudah bisa dipastikan bahwa kita Sedang berpikir negatif kepada Tuhan.
Mengapa?
seperti yang rumus tadi saya katakan: jika kita banyak berpikir positif padahal hal-hal yang di luar takdir saat ini maka hasilnya adalah kita berpikir negatif pada Tuhan.
Ini akan sangat berbeda jauh bila kita justru banyak berpikir negatif kepada hal-hal yang di luar takdir kita saat ini.
Contohnya kita membaca berita tentang adanya perampokan sampai hingga satu keluarga dibunuh, di mana mereka itu tinggal di perumahan yang mewah. Lalu kita berpikir seperti ini: andai saja saya tinggal di perumahan mewah bisa jadi nasib keluarga saya akan seperti itu juga. Ini kan artinya Kita Sedang berpikir negatif tetapi hasilnya adalah kita menjadi berpikir positif pada Tuhan. Kita menjadi bersyukur pada tuhan yang telah menakdirkan hari ini untuk belum mengijinkan kita memiliki rumah sendiri apalagi di perumahan mewah tapi mengijinkan keluarga kita terhindar dari takdir mengalami perampokan bahkan sampai dibunuh.
Demikian tayangan materi di kesempatan ini tentang bagaimana caranya agar kita dengan lebih mudah senantiasa mampu berpikir positif kepada Tuhan sehingga hati kita menjadi lebih tentram.
teruslah berpikir positif pada Tuhan mu
Kebahagiaan
Adalah proses menghargai diri sendiri ketika melakukan perjuangan hidup yang kita yakini sudah dijalankan dengan benar.
© 2025. All rights reserved
Menu :
